Produktivitas Penulis Muslim

  • Whatsapp

Oleh: Yanuardi Syukur*

Kau adalah tahanan dari dirimu sendiri
— Nizami Ganjavi, Layla Majnun

Read More

Saya beruntung dapat kesempatan untuk berbagi pada ‘Ngaji Online’ Islam dan Psikologi ke-56 yang dimoderatori Prof Reni Akbar-Hawadi pada 25 Juni 2021. Pertemuan bermakna itu dihadiri juga oleh Prof Veithzal Rivai, Pengurus ILUNI PSKTTI UI Dewi Savitri, Ust Hatta Raharja, dan teman-teman lainnya.

Saya bawakan materi berjudul ‘Menulis semudah berbicara’ dengan coba melihat tradisi menulis dalam Islam. Sejak zaman Nabi Muhammad saw, menulis telah menjadi tradisi, yang dibuktikan dari berbagai surat diplomatik atas nama Nabi Muhammad saw kepada para pembesar agar masuk Islam.

Misalnya, surat yang ditujukan kepada Raja Muqauqis sebagai berikut:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Muqauqis Raja Qibthi. Keselamatan semoga tercurah kepada orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Amma ba’du: Aku mengajakmu dengan ajakan kedamaian. Masuklah Islam maka engkau akan selamat. Masuklah Islam maka engkau akan diberikan Allah pahala dua kali. Jika engkau menolak, maka atasmu dosa penduduk Qibthi.”

Setelah itu, dilanjutkan dengan penulisan mushaf Al-Qur’an, disusul dengan pengumpulan berbagai hadis Nabi yang sekarang kita kenal dengan nama ‘kitab yang enam’ (kutubussittah): kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan An-Nasai, serta Sunan Ibnu Majah.

Kitab para ulama dan intelektual Muslim kemudian disusun dan tersebar sampai saat ini. Di antara kitab tersebut ada yang telah diterbitkan tapi masih banyak yang jadi manuskrip atau bahkan hilang karena rusak atau terbakar.

Seiring dengan kemajuan sistem pendidikan, lahirlah kemudian para ulama dan intelektual yang melahirkan karya-karya khas dan spesifik dalam pembidangan ilmu yang diminatinya. Menurut Prof Veithzal Rivai, saat ini yang menjadi pertanyaan penting adalah bagaimana menjadikan menulis itu indah dan nikmat.

Beliau sendiri dengan prinsip ‘hidup bermanfaat bagi orang banyak’ kini telah menulis 103 buku, dan masih ada 70 naskah lainnya yang akan diterbitkan. Luar biasa, salah satu buku Prof Veithzal ‘Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari Teori ke Praktik bersama Ramly, Mutis, dan Arafah (2019) dikutip oleh 5523. Artinya, makin banyak dikutip bisa jadi salah satu indikator dari tulisan yang sukses.

Sekarang, kita coba lihat apa rahasia menulis para ulama dan intelektual Muslim. Rahasia menulis para ulama dan intelektual Muslim setidaknya ada lima: (1) Meniatkan menulis untuk mendapat ridha Allah, (2) Memulai dan mengakhiri tulisan dengan doa atau shalat sunnah, (3) Menulis dalam kondisi yang tenang, (4) Mengutamakan inti daripada bumbu-bumbu penyedap tulisan, dan (5) Menulis seperti sedang bercerita.

Dalam hal meniatkan menulis untuk meraih ridha Allah, di ini ada keyakinan bahwa semua aktivitas manusia—melihat, mendengar, bekerja, menulis, etc.—akan dipertanggungjawabkan di mahkamah akhirat. Maka, menulis dengan tujuan mendapatkan ridha Allah sangat menjadi niat utama para ulama dan intelektual, ketimbang untuk mendapatkan nama baik, harta, atau jabatan tertentu.

Niat untuk mendapatkan ridha Allah menjadi penggerak paling kuat yang membuat seorang ulama dan intelektual bersungguh-sungguh untuk membaca, mencari rujukan terkuat, dan menulis karya sebaik-baiknya. Karya magnum opus selalu dilahirkan dalam semangat transendental seperti ini. Karyanya kemudian dikenal oleh sejarah, diwariskan, dan masuk ke dalam hati para pembicaranya dari zaman ke zaman.

Do’a Nabi Ibrahim as ‘waj’al li lisana shidqin fil akhirin’, “dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian” (Q. Asy-Syu’ara: 84) mengandung pesan agar tiap penulis menghasilkan buah karya terbaik yang jadi kebaikan bagi orang sesudahnya.

Semangat Ibnu Aqil (1040-1119) dari Baghdad yang menulis Kitab Al-Funun sepanjang 800 jilid tidak mungkin bisa menuntaskan karyanya jika niatnya semata untuk dunia kayak popularitas, uang, atau jabatan. Jika tiap bukunya diperkirakan tebal 5cm, maka 800 jilid tulisannya bisa sepanjang 40 meter.

Bisa kita bayangkan betapa tebalnya karya yang berisi berbagai macam ilmu, kejadian yang dia alami bersama guru dan muridnya, dan berbagai macam kisah lainnya. Niat ‘menulis untuk akhirat’ itu jadi semangat paling tinggi yang menggerakkan seseorang untuk melahirkan produktivitas luar biasa.

Terkait memulai dan mengakhiri tulisan dengan doa atau shalat sunnah, di sini terlihat ada kekhawatiran jangan sampai karya tulis tersebut—walau diniatkan baik—malah menjadi tidak baik bagi pribadi atau bagi orang lain. Maka, ulama dan intelektual Muslim tidak lupa memulai dan mengakhiri tulisannya dengan doa atau dengan shalat sunnah. Tradisi ini sangat lazim dalam khazanah kesarjanaan Muslim, yang tidak ditemukan pada tradisi kesarjanaan lainnya.

Ada semangat untuk menghadirkan jiwa yang terpaut padanya saat menulis yang kemudian mengalirkan semangat itu pada ‘jiwa tulisan.’ Sesuatu yang ditulis dengan semangat keilahian akan berdampak pula pada peningkatan semangat keilahian para pembaca.

Salah satu doa:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْل

“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, dan aku aku berlindung kepada-Mu dari pikun, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pelit.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (1263-1328), salah seorang penulis produktif dalam tradisi intelektual Islam jika sedang memikirkan suatu masalah yang berat maka ia akan beristigfar seribu kali. Taimiyyah berkata sebagai berikut:

“Jika di benakku sedang berpikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristigfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid, atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristigfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Ulama dan intelektual Muslim membutuhkan ketenangan (batin dan lingkungan) untuk menghadirkan pikiran terjernih yang kemudian dialirkan ke dalam tulisan. Pikiran jernih itu hanya akan hadir dalam kondisi jiwa dan raga penulis yang tenang.

Adakalanya ketenangan batin dan lingkungan itu diperoleh lewat tradisi ‘uzlah (menyepi dari keramaian), atau mencari waktu-waktu khusus misalnya setelah membaca Al-Qur’an, atau di malam hening saat orang lain sedang tertidur.

Sejarah juga menunjukkan bagaimana para ulama yang terpenjara—seperti Ibnu Taimiyyah, As-Sarakhsi, HAMKA—dapat menghasilkan karya besar dari balik penjara. Sangat mungkin karena dalam kondisi relaksasi (kognisi dan emosi dalam lingkungan tertentu) orang dapat menulis lebih terbuka, jujur, dan mengalir.

Buya Hamka menulis Tafsir Al-Azhar di penjara Orde Lama. Karya itu sampai sekarang masih dibaca terutama di dunia Melayu. Kitab itu ditulis dalam situasi ‘uzlah ketika pikiran hati bisa fokus untuk itu. Prof M. Quraish Shihab menulis Tafsir Al-Mishbah (15 jilid) setelah tidak jadi pejabat–dari universitas dan negara–dan memilih untuk fokus pada menulis tafsir. Beliau isi waktu beberapa tahun khusus untuk menyelesaikan tafsir tersebut.

Tiap orang memiliki cara khas untuk itu, termasuk dengan menghadirkan minuman tertentu—teh, kopi, atau air hangat—yang dapat membuat diri rileks kemudian berdampak pada kejernihan pikiran.

Mereka juga lebih mengutamakan inti daripada bumbu-bumbu penyedap tulisan. Ulama dan intelektual Muslim lebih fokus pada inti tulisan ketimbang ‘bumbu’ penyedap tulisan. Fokus pada ‘daging’ lebih diutamakan ketimbang bumbu-bumbu di sekitarnya, walaupun sebenarnya ‘daging yang berbumbu’ juga kerap terasa nikmat bagi pembaca.

Untuk kitab rujukan, biasanya ulama berfokus pada inti, dan menghilangkan—semaksimal mungkin—cerita-cerita yang tidak relevan. Tapi untuk tulisan yang ringan seperti syair, novel, fabel, etc., selalu dibutuhkan bumbu penyedap, namun tetap tidak keluar dari ajaran agama Islam.

Di antara karya bersejarah tidak terlepas juga dari karya-karya ringan tapi filosofis. Kitab Kalilah dan Dimnah karya Ibnul Muqaffa, adalah dongeng abadi tentang kesetiaan dan pengkhianatan. Isinya tidak hanya ngomongin soal moral, tapi juga mengandung hiburan. Kisah yang diadaptasi dan ditambah dari karya lainnya ini juga berisi cerita tentang seorang pria yang menemukn harta karun tapi tidak bisa menyimpannya, kisah gagak yang coba belajar jalan kayak ayam hutan, dan lainnya.

Kisah-kisah seperti ini–yang dibuat sendiri atau diadaptasi dari karya lainnya–bisa jadi cermin bagi kita dalam berbuat baik dan bijak. Kitab itu selain menanamkan kebajikan dan kebijaksanaan sekaligus memperingatkan terhadap bahayanya sanjungan dan penipuan. Jika dibawa ke konteks sekarang kita bisa temukan relevansi kisah-kisah masa lalu itu dengan dunia kita.

Buku Layla Majnun (1192) juga isinya ringan tapi dalam. Nizami Ganjavi, penyair epik romantis terbesar dalam literatur Persia yang menulis kitab itu juga memiliki kemampuan sebagai jembatan peradaban Iran pra-Islam dan Islam, serta Iran dengan seluruh dunia kuno. Walau bukan filsuf dan ahli tasawwuf, tapi dia menunjukkan minat belajar yang tinggi pada berbagai ilmu Al-Qur’an, matematika, astronomi, sejarah, filsafat, dan lain sebagainya. Di sini terlihat bagaimana para penulis hebat seperti Nizami yang berhasil membawa cinta manusia yang fana menjadi cinta ilahi yang baqo’ melalui perpisahan dan kerinduan.

Di Layla Majnun, kita sebagai pembaca dapat banyak nasihat hidup yang luar biasa. Misalnya, kita tidak hanya baca kisah cinta tapi makna, terlihat dalam kalimat, “….bahkan laut yang besar sekalipun terdiri dari tetesan-tetesan air. Bahkan gunung yang tinggi sekalipun ditopang oleh serpih-serpih tanah.”

Atau, dalam kalimat lainnya, “…maka apa gunanya menyesal? Tiada yang berarti kecuali apa yang telah kau capai. Seorang wanita hanya mengenakan apa yang ditenunnya. Seorang lelaki hanya menuai apa yang ia semai.” Di sini terlihat kekuatan hati bahwa yang berarti dalam hidup kita adalah apa yang telah kita capai.

Para ulama dan intelektual juga menulis karya mereka seperti sedang bercerita. Transformasi nilai paling mudah adalah lewat cerita. Maka, ‘kemampuan bercerita’ dimiliki para ulama dan intelektual Muslim agar konten yang akan dibagikan mudah untuk dipahami, terang, jelas, dan tidak ambigu.

Buku Musyawarah Burung karya Fariduddin Attar, yang diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi ‘The Conference of the Birds’ oleh Afkham Darbandi dan Dick Davis (1984) juga menarik dalam konteks bagaimana hewan–seperti burung–dapat memberikan pelajaran dan hikmah kepada manusia. Buku tentang kisah burung-burung mencari raja itu sangat legendaris sampai sekarang. Sufi abad ke-12 itu berhasil menghadirkan cerita bagaimana kita harus fokus pada perjalanan spiritual.

Bercerita, seperti beberapa buku di atas, berarti menyusun naskah dengan logika tertentu, misalnya apakah pakai sistem bab, atau tanpa bab, etc. Kemudian saat menulis, konteks apa dulu yang perlu ditulis, apa saja cerita menarik yang memperkuat konten, dan bagaimana mengakhiri tulisan dengan sesuatu yang memikat pembaca untuk mengikuti kehendak penulis.

Di Indonesia ada banyak sekali penulis Muslim yang patut untuk kita baca, bahkan apresiasi. Dari karya-karya itu, ada yang telah terbit tapi masih banyak yang masih jadi manuskrip, bahkan di masa pandemi, banyak yang masih sekedar jadi file di komputernya. Naskah itu penting untuk diterbitkan, dan dibahas, apa sisi kurang dan sisi lebihnya, agar suasana keilmuan hadir dalam dunia kita yang mencerahkan pikiran dan jiwa.*

Depok, 26 Juni 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

139 comments

  1. Pingback: 소액결제
  2. Pingback: yehyeh com
  3. Pingback: link slot gacor
  4. Pingback: see post