Cepat Jadi Pejabat, Lambat Jadi Dewasa

  • Whatsapp

Oleh: Yanuardi Syukur*

Belakangan ini saya lihat ada gejala sosial cepat jadi pejabat tapi lambat jadi dewasa. Gejala paling baru adalah ketika seorang pejabat menulis di Twitter bahwa kalau ia bertemu dengan pejabat lainnya–yang ia tidak sukai–maka ia akan meludahinya.

Read More

Setelah diprotes banyak orang, sang pemilik akun kemudian meminta maaf yang ditujukan kepada ‘korban’ yang mau diludahin, kepada pejabat di atas dia, kolega dalam tempat kerjanya, dan masyarakat umum. Terakhir, akunnya kemudian dihapus.

Gejala ini menarik untuk ditelusuri. Pertanyaannya: mengapa seorang pejabat–yang seharusnya dewasa–menunjukkan sikap kontradiktif yang tidak beradab? Pertanyaan ini kalau ditujukan kepada istri saya yang senang kajian parenting akan dijawab: “Sangat mungkin itu pengaruh salah pengasuhan di usia 0-15 tahun.”

Tapi karena saya tidak ahli parenting, saya coba melihatnya dari sudut lainnya. Mungkin perlu dipertimbangkan soal indikator seleksi. Seleksi pejabat seharusnya jelas memperhatikan unsur kognitif dan emosi yang dapat dilihat dari track record sang calon. Mungkin harus ada tim yang men-tracking apa saja postingan yang bersangkutan di media sosial–di masa lalu–serta bertanya pada beberapa orang terpercaya dan objektif terkait calon tersebut.

Bisa jadi, hal ini sudah dilakukan dalam bentuk yang sederhana, akan tetapi hasil seleksi itu tidak menjadi pertimbangan dominan dalam melihat sosok calon sebagai manusia yang utuh. Artinya, dalam sudut pofesional bisa jadi yang bersangkutan sangat ahli tapi dari sudut emosional–khususnya literasi digital–sangat kontradiktif.

Apa yang membuat pejabat tersebut ‘jatuh’ bukan pada dunia kerja-nya, tapi pada dunia digital dimana dia lemah. Sangat mungkin, karena berpikir bahwa digital ini bukanlah ‘dunia sebenarnya’ sehingga tidak ada pertimbangan lebih sebelum posting sesuatu. Artinya, kalau seseorang sadar bahwa apa yang ia posting itu akan berdampak pada dirinya–kini dan akan datang–maka ia akan lebih berhati-hati.

Apalagi, ada peningkatan skill baru di masyarakat kita dalam mencari kesalahan digital orang lain. Apa yang disebut ‘jejak digital itu kejam’ memang benar adanya. Bukan hanya faktor manipulasi sesuatu menggunakan aplikasi tapi lahirnya kemampuan untuk mencari-cari celah, menggabungkan rangkaian data menjadi satu kesatuan atau fakta baru yang berniat untuk menjatuhkan orang lain.

Gejala ini bisa kita sebut sebagai ‘berpikir sederhana’ atau simple minded. Dalam praktiknya, orang yang simple minded cenderung cepat percaya pada satu fakta yang berasal dari circle-nya. Jika ada fakta dari luar circle-nya maka ia cenderung ragu, dan melihat bahwa pasti ada yang tersembunyi di balik fakta itu. Tapi jika fakta itu disampaikan oleh circle-nya ia tidak punya nalar kritis, walaupun fakta tersebut jauh dari kebenaran.

Bisa jadi, lemahnya daya kritis itu karena kurangnya pengetahuan, atau berpengetahuan yang keliru. Orang yang kurang pengetahuan lebih mudah untuk berubah manakalanya mendapatkan tambahan pengetahuan. Tapi orang yang yang pengetahuannya keliru dan mempertahankan kekeliruan itu tidak mudah untuk berubah. Bisa jadi, kenapa ia mempertahankan kekeliruannya adalah karena trauma, sakit hati, benci sampai ke ubun-ubun, atau stress.

Kembali pada kedewasaan, menurut saya sangat penting saat ini untuk jadi dewasa dalam banyak ruang hidup. Artinya, tidak cukup hanya dewasa secara profesional, tapi butuh juga dewasa secara kognisi dan emosional. Tidak cukup hanya dewasa di panggung, tapi juga harus dewasa di luar panggung. Tidak cukup hanya dewasa saat ramai tapi juga butuh kedewasaan saat sendiri.

Satu refleksi personal dari pejabat yang nulis twit itu menurut saya menarik, dan patut untuk kita renungkan dalam konteks hidup bersama. Katanya begini, “Saya mungkin telah melupakan apa yang telah dicontohkan oleh para pendiri bangsa kita, bahwa perbedaan pandangn tidaklah seharusnya merusak hubungan kemanusiaan antar insan.” Saya ingin garis bawahi kalimat ini: “perbedaan tidak harus merusak hubungan kemanusiaan.”

Ini dalam sangat penting untuk kita semua. Belakangan karena perbedaan politik orang mudah terpecah, tidak lagi berteman, bahkan ada pasangan suami istri yang retak gara-gara perbedaan itu. Terkait covid, ada juga pasangan suami istri yang konflik gara-gara berbeda dalam solusi mengantisipasi gejala covid. Misalnya, ketika istrinya ada gejala, kemudian suaminya minta agar minum vitamin sekian banyak. Nah, si istri nggak mau, karena berprinsip ‘semua yang berlebihan pasti tidak baik’. Akhirnya, karena kesal, si suami pun minggat (entah minggatnya karena atau sebenarnya ia cari alasan saja untuk minggat).

Di sini, kedewasaan kita diuji, baik itu politik, kerja, atau relasi personal. Tapi satu hal baik dari ‘surat permohonan maaf’ tadi adalah jangan sampai beda pandangan membuat relasi kita rusak. Tokoh bangsa sudah menunjukkan kepada kita, walau berbeda mereka tetap bisa ngopi bareng, bahkan naik motor bareng–sejauh apapun beda argumennya.

Jadi dewasa atau matang itu perlu, apalagi untuk mereka yang diberi jabatan publik. Bahwa sikap mereka–personal atau institusional–kerap dilihat sebagai satu kesatuan oleh masyarakat (at least netizen), dan jika salah bertindak akan berdampak citra buruk bagi pribadi dan juga institusi. *

Depok, 30 Juni 2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1,485 comments

  1. I am a website designer. Recently, I am designing a website template about gate.io. The boss’s requirements are very strange, which makes me very difficult. I have consulted many websites, and later I discovered your blog, which is the style I hope to need. thank you very much. Would you allow me to use your blog style as a reference? thank you!

  2. Pingback: meso
  3. Superb post but I was wondering if you could write a litte more on this topic?
    I’d be very thankful if you could elaborate a little bit
    more. Bless you!