Satu Atap

  • Whatsapp
sumber gambar: hidayahbangsa.org
sumber gambar: hidayahbangsa.org

By Khalil El Rachman (Penulis Novel Tarbiyah Tuhan, Anggota Pengurus Pusat RPI)

Sinar mentari pagi sedikit demi sedikit terlihat menyinari hamparan kota Singkawang. Memembus celah-celah ventilasi rumahku, menghangatkan udara yang semalam terasa sangat dingin sehingga dua lapis selimut menempel di tubuhku.

Read More

Aku terlahir dari keluarga yang sangat kental menjalankan ajaran agama. Baru dua minggu aku kembali ke Singkawang karena sebelumnya aku merantau ke luar Kalimantan untuk mendapatkan pendidikan di pesantren.

Musim libur telah usai berganti dengan musim kuliah, namun tak satu pun perguruan tinggi negeri yang menerimaku, bukan karena aku bodoh tapi mungkin karena aku gaptek, nggak tau ngisi lembar soal di komputer. Kini hanya menyisakan satu perguruan swasta di Singkawang, tapi yang kuliah di situ kebanyakan orang Tionghoa, aku kan seorang muslim. Namun, daripada menganggur  akhirnya aku mendaftar dan diterima di sana.

San Khew Jong University adalah tempatku memulai hidup yang baru. Di sana aku memiliki banyak teman baru yang berbeda keyakinan.

“Hai Indah, apa kabar?”

“Halo juga, kabar baik, sudah selesai belum makalahnya? ini sudah mau dikumpulkan ke dosen.”

Indah yang nama lengkapnya Indah Meili yang selalu percaya diri dengan dirinya sendiri yang katanya arti namanya adalah gadis yang indah, menawan dan cantik, dan aku bersyukur berteman dengannya karena aku yang gaptek alias gagap teknologi banyak dibantu olehnya.

“Oh iya tunggu, tinggal bentar lagi, soalnya aku masih pusing, ini kok hurufnya ke pinggir semua ya?”

“Aduh lil, sini aku bantuin, jangan–jangan kamu nggak ngerti caranya nyusun makalah”

“Hehehe,,, iya Indah, aku baru pertama kali ngerjain makalah makanya agak kerepotan”

“Tinggal satu jam lagi masuk kuliah, sini biar aku ajari caranya, nah ini marginnya terlalu kepinggir”

“Oh gitu ya, hehehe aku nggak terlalu paham”

“Tenang saja kalau ada aku semuanya akan beres”

“Hahaha… kepedean.” Gelak tawa kami bercanda bersama.

Riuh teman-teman pun mulai terdengar berjalan masuk ke dalam kelas, dari sudut yang jauh, sudah nambak batang hidung dosen yang berjalan menuju kelas.

“Bagaimana sudah selesai semua tugas dari teman–temanmu Indah?”

“Iya bu sudah selesai semua”

Meskipun masuk di lingkungan yang didominasi oleh orang Tionghoa tidak menjadikanku terkucilkan, bahkan mereka tertarik bertanya kepadaku tentang agama Islam,  aku juga menjadi tertarik untuk bertanya kepada mereka. Ada hal yang kami temukan bersama. Ternyata kami memiliki banyak kesamaan agama kami sangat menentang kebodohan, dan penindasan serta sangat berkasih sayang. Kami hanya heran mengapa kami diajari untuk membenci agama lain. Padahal tidak semua dalam agama berbuat demikian seperti yang disangkakan orang tua kami, mereka hanya melihat sebagian saja yang berbuat demikian kemudian menganggap semua penganutnya sama.

“Udah lihat berita hari ini di TV? umat Islam dan umat Budha gara-gara satu dua orang yang bermasalah akhirnya menjadi isu antar agama, kalian  semua harus pandai-pandai mengamati, masalah itu bukanlah isu agama, hanya saja ada oknum tertentu yang memprovokasi” Ucap dosenku.

Aku hanya terdiam, kusangka dosenku akan berkata yang tidak-tidak tentang Islam, jadi memang tidak semua dalam agama penganutnya sama cara berpikirnya.

“Kita turut berduka cita atas pertikaan yang terjadi dan saya harap kalian tetap menajaga hubungan kalian dengan sesama umat lain di negara ini, karena jika itu terjadi di Indonesia yang rugi adalah Indonesia sendiri” Tutur dosenku lagi.

“Ibu, saya mau bertanya mohon maaf apa ibu tahu saya muslim?”

“Iya saya tahu kamu muslim, kamu kan nggak pernah bilang kamu jin” jawab dosenku yang agak bercanda untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba tegang.

“Maksudnya kalau saya beragama Islam Ibu”

“Iya saya tahu” sembari tersenyum.

“Jadi apa karena saya muslim, ibu jadi sangat toleran kepada saya?”

“Tidak nak , baik ada tidaknya orang Islam di kelas ini saya tetap akan berusaha menjaga dan menyebarkan virus-virus perdamaian, cukup saya yang merasakan kerasnya kehidupan karena perseteruan di masa penjajahan.”

“Iya lil, baik ada atau tidak ada orang Islam, Ibu akan tetap berkata yang baik terhadap agama lain.” Tambah Ndah.

“Iya nak, saya hanya prihatin dengan bangsa ini, terkadang dengan saudara sendiri karena beda agama beda paham bertengakar, kalau begini lebih baik kita kembali di zaman penjajahan dan berjuang bersatu kembali tanpa memandang agama suku dan budaya”

“heheh Ibu bercanda kan? Ucapku.

“Ini serius nak, kenikmatan terbesar adalah persatuan selain dari kemerdekaan, makasih ya, lil setidaknya kehadiranmu di sini menghilangkan persangkaan-persangkaan buruk teman-temanmu kepada Islam”

“Iya Ibu, sama-sama, aku juga jadi sadar dengan memiliki banyak teman yang baik meskipun beda keyakinan”

Bulan itu adalah bulan perdamaain internasional, dan bulan depannya adalah hari kesaktian pancasila, kami pun disuru untuk menulis di koran tentang kedua tema tersebut.

“Kalau ada yang tembus tulisannya di koran bu, dapat hadiah makanan?” Tanya Kim yang hobi dan jago makan.

“Iya Kim, saya traktir satu kelas kalau ada yang lolos tulisannya di antara kalian”

“Siap Ibu,” serentak isi kelas menjawab

“Dua Minggu ke depan batasnya ya”

Dua minggu kemudian tuliasanku dan tulisan Mei muncul berselang satu hari di koran. Tema tulisan kami sama, tentang tolerasnsi agama yang telah lama kami diskusikan bersama.

“Ndah dan lil selamat ya, tulisan kalian berdua terbit di Koran, sangat luar biasa kalian membahasnya, sangat detail dan rapi serta adanya semangat persatuan yang dibangun di dalamnya, kalian berdua berhak bebas final kuliah”

“Ibu jadi kan teraktir kami semua?” Tutur Kim yang sedang menagih janji Ibu Dosen

“Iya jadilah, masa’ saya bohong”

“Wah kalau tau-tau begini aku akan sering-sering juga nulis di Koran” Jawab Kim lagi.

“Ha, Kim, Kim,,, gimana mau nulis kalau kamu itu kerjanya cuma mikirin makan”

Isi kelas pun serentak tertawa, Kami sudah sangat paham dengan tingkah dosen kami yang suka bercanda.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1,710 comments

  1. Pingback: Ozempic
  2. Pingback: Bubble Tea
  3. Not exactly. The fact is that an online casino no deposit bonus is not ‘free’. Yes, you get extra money from the casino, but if you win, you will almost always have to make a deposit so that you can meet the wagering requirements before you withdraw. This way the casino ensures that it is getting some money out of the deal too. It is not necessary for customers to load their accounts before activating free money casinos with no deposit required. Casinos like these use no deposit bonuses to attract new clients. Anyone who wishes to activate this bonus must create an account on the casino’s website. Consequently, they can use the bonus to expand their clientele. There is little difference between using a no-deposit code on a desktop casino and mobile applications. In both cases, a player must have the right code, to begin with. The player then needs to take the steps that the casino recommends to anyone who wishes to activate the no deposit code.
    http://xn--989ao2vh9cj1dltae41ao4a25c096c.kr/new/bbs/board.php?bo_table=free&wr_id=26448
    Bonus Lucky Ladies is a $1 progressive side bet. I first noticed it on June 5, 2015 at the Palace Casino in La Center, Washington. Following is the pay table table. All wins are on a “for one” basis, meaning the player does not get his original wager returned on a win. What side bets provide is the opportunity to play for higher wins at longer odds. The house edge rises to 10 per cent or more with side bets, making for some enticing options. Side bets are optional additional bets that players can wager on during the beginning of a round in the game of Blackjack. On a blackjack table, the side bet’s wager is placed on the area next to the box for the main bet. Before placing side bets, it’s important to make sure you’re aware of the blackjack rules for the specific game that you’re playing. Not all games offer all types of side bets, but this is something that will be explained clearly in the game information if you’re playing online. So let’s take a look at some of the most popular blackjack side bets which you’ll generally be able to make.