Rumah Produktif Indonesia Optimis Menjayakan Bangsa

  • Whatsapp

Oleh: Syamsudin KadirPenggawa Bidang Penulisan dan Penerbitan RPI Pusat

PADA Sabtu 12 Februari 2022 saya menghadiri Rapat Kerja Nasional I (Rakenas I) Perkumpulan Rumah Produktif Indonesia (RPI) dengan tema “Menghimpun Potensi, Menjayakan Indonesia” dan acara berupa pembukaan yang berisi sambutan, pelantikan pengurus RPI Periode 2022-2025, diskusi literasi budaya, pengesahan AD/ART, pengesahan program kerja, dan penutupan. Acara yang diselenggarakan melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh unsur Dewan Penasehat, Dewan Pakar, Dewan Pengurus Harian Pusat, Jaringan Wilayah, dan jejaring RPI di seluruh Indonesia dan luar negeri. 

Pada sambutannya, Ketua Steering Committe (SC) Rakernas I Prof. Ismail Suardi Wekke menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan momentum terbaik untuk berkonsolidasi dan membangun penyamaan persepsi tentang RPI itu sendiri. “Acara ini adalah bagian dari konsolidasi dan strukturisasi RPI untuk penyamaan persepsi tentang langkah strategis dan praktis dalam mewujudkan agenda RPI ke depan, termasuk untuk menjayakan bangsa Indonesia sebagaimana tema yang diangkat pada Rakernas I ini”, ungkapnya.  

Rumah Produktif Indonesia (RPI) lahir di tengah situasi pandemi yang melanda seluruh jagat sejak awal 2020 lalu. Khusus di Indonesia, masa pandemi membuat kita banyak beraktivitas di rumah. Pada kondisi demikian, para penggiat beragam latar belakang tergerak dan terdorong untuk mengisi masa pandemi secara produktif. Maka diinisiasilah sebuah perkumpulan bernama Rumah Indonesia (RI), lalu diubah lagi menjadi Rumah Produktif Indonesia yang disingkat RPI. “Kemudian dilaksanakan berbagai kegiatan diskusi dengan narasumber dari berbagai latar belakang yang berada di beberapa negara. Hal ini sebagai dilakukan sebagai pemantik untuk langkah selanjutnya. Berikutnya, diinisiasi dan digagaslah pembentukan RPI sebagai perkumpulan secara resmi melalui lembaga resmi negara”, ungkap Presiden RPI Yanurdi Syukur, M.Si. 

Ya, RPI sendiri diinisiasi oleh beberapa penggiat beragam latar belakang yang diarahkan untuk kegiatan sekaligus tujuan produktif. Perkumpulan ini melibatkan berbagai penggiat yang berasal dari berbagai tempat dengan beragam aktivitas, potensi juga latar belakangnya.  “Rumah tentu tak sekadar rumah biasa saja, tapi mesti menjadi rumah produktif. Hal ini ditandai dengan adanya karya. Bukan saja untuk diri dan keluarga tapi juga untuk bangsa dan negara, bahkan peradaban global”, lanjutnya. RPI bertujuan untuk mengambil peran dan kontribusi dalam upaya mengokohkan dan memajukan bangsa sekaligus negara Indonesia dalam skala manfaat bagi kemanusiaan. Sehingga sejak awal berdiri, RPI berdasar pada Pancasila dan berpijak pada UUD 1945. Hal ini menjadi penegas titik tolak dan arah peran juga kontribusi RPI ke depan. “RPI berdiri di atas dan untuk semua golongan. Karena itu, siapapun, dari mana pun dan apapun latar belakangnya akan diakomodasi di RPI”, tegasnya.  RPI memastikan dirinya untuk berperan dan  memajukan bangsa dan negara termasuk untuk menghadirkan peradaban global yang lebih maju. Mewujudkan sebuah perkumpulan produktif ditandai dengan berbagai kegiatan produktif. Dengan begitu, pada periode awal hingga Rakernas I kali ini RPI sudah melakukan berbagai kegiatan seperti diskusi, seminar, bedah buku, audisi kepenulisan, penelitian, dan sebagainya. RPI juga berperan dan berkontribusi dalam mengangkat berbagai isu seperti keilmuan, terorisme, Covid-19, G-20, kepenulisan dan sebagainya. 

Secara menyeluruh RPI sudah menerbitkan banyak buku, baik di berbagai daerah maupun secara personal. Bahkan yang menarik, penggiat RPI menulis dalam beragam tema yang sangat relevan dengan kebutuhan dan upaya pembangunan bangsa dan negara. Selain itu, RPI juga konsen pada pengembangan bahasa, baik bahasa Indonesia dan asing maupun bahasa daerah di Indonesia yang begitu beragam. Sehingga literasi yang digagas dan dikembangkan oleh RPI mampu menyanggah kebutuhan bangsa dan negara ke depan.  “Kita ingin ke depan para penggiat di RPI menjadi tokoh-tokoh di bidangnya masing-masing, termasuk menjadi pemimpin di daerahnya masing-masing. Sehingga kita berharap yang bergabung dalam RPI ini tidak saja paham bahasa Indonesia tapi juga berbagai bahasa negara lainnya, termasuk juga memahami bahasa daerah, baik bahasa daerahnya maupun bahasa daerah lainnya”, harap pengamat terorisme lulusan Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) ini. 
Mewujudkan perkumpulan yang produktif tentu membutuhkan kerjasama dan kolaborasi semua pihak, sehingga RPI berupaya untuk membangun kerjasama dan kolaborasi dengan berbagai lembaga seperti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Universitas Indonesia, dan beberapa kampus lainnya baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, juga dengan berbagai penerbitan buku. “RPI sudah menginisiasi penulisan buku dengan 100-an lebih penulis dari seluruh Indonesia dengan tema seputar G-20. Selain itu, juga sedang menggagas berbagai penulisan buku dalam beragam tema”, lanjutnya.  

Pada kesempatan ini panitia juga menghadirkan Kang Hery Gonku (Penggiat Sosial dan Lingkungan) sebagai narasumber untuk diskusi literasi budaya bertema “Tuhan, Manusia dan Ruang Terbuka” sebagai bagian dari acara kali ini. Menurut Kang Hery, agenda yang perlu diprioritaskan ke depan yaitu penguatan dan pengembangan literasi, termasuk dengan cara membangun hubungan baik sekaligus memanfaatkan alam terbuka secara produktif. Menurutnya, cara mencintai Indonesia adalah dengan menjaga kelestarian alam dan memanfaatkan ruang terbuka secara produktif. Termasuk diantaranya membangun narasi yang mencerahkan masyarakat luas terkait alam semesta atau lingkungan hidup.  

“Keindonesiaan kita mesti menghargai alam semesta ini. Kita adalah bagian tak terpisahkan dari alam juga Tuhan. Karena itu, hubungan baik antar ketiganya mesti dijaga dengan baik. Tidak boleh ada lagi yang melakukan eksploitasi yang pada ujungnya merusak bahkan berdampak buruk pada diri kita sendiri. Kita mesti mengelola dan memanfaatkannya secara produktif. Beginilah cara kita berterima kasih pada alam dan bersyukur kepada Tuhan. Kita adalah karyawan-Nya”, ungkapnya.  
Membangun hubungan baik dan memanfaatkan alam terbuka secara produktif merupakan salah satu agenda budaya sekaligus literasi yang penting. Sebab alam semesta memiliki daya respon yang bermata ganda pada setiap langkah dan tindakan kita padanya. Bila kita baik maka alam pun baik, sebaliknya manakala kita jahat maka alam pun akan jahat. “Maka kita perlu membangun hubungan persahabatan yang baik dengan alam. Ya, bersahabatlah dengan alam, agar alam juga bersahabat dengan kita. Lakukan proses literasi kebudayaan, sehingga masyarakat teredukasi, bukan dizolimi. Secara teknis, kita bisa membangun sumur resapan di rumah dan sekitar rumah kita”, lanjutnya.  

Memajukan dan menjayakan Indonesia adalah kerja kolektif seluruh elemen bangsa. Kehadiran RPI dengan segala agenda strategisnya merupakan bagian dari upaya untuk menjayakan Indonesia. Lakon semacam ini merupakan kerja-kerja kebudayaan dan peradaban. Ini bermakna RPI hadir dalam ruh dan semangat kontribusi yang terbaik untuk kepentingan kemanusiaan dalam skala yang terjangkau oleh potensi yang ada di RPI itu sendiri. Fitur kreatif dan inovatif semacam ini akan menjadi energi penguat dan penyokong bagi kita untuk menjayakan Indonesia manakala kita merangkainya dengan semangat kerjasama dan kolaborasi. Kuncinya adalah ide, narasi dan kegiatan yang ditunaikan oleh RPI lebih produktif, bermanfaat luas dan berdampak baik bagi kemanusiaan. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

25 comments